NusraID - Perjalanan ilmu menembus batas negara. Dari Pattani, Thailand, dua santriwati menapakkan langkahnya di Pancor, Lombok Timur, untuk menimba ilmu di Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor.
Nur Fatihah dan Safiyah kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar IAIH Pancor. Kedatangan keduanya bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi juga membawa harapan besar untuk meneruskan mata rantai keilmuan Maulana Syeikh T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid hingga ke Thailand.
Suasana penuh haru dan kekhidmatan mewarnai penyambutan kedua mahasiswi asing tersebut di Ruang Pertemuan Lantai 3 IAIH Pancor. Wakil Rektor 1, Wakil Rektor 3, para dekan, wakil dekan, hingga ketua program studi hadir menyambut keduanya.
Kegiatan diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah. Setelah rangkaian sambutan, suasana semakin istimewa ketika almamater IAIH Pancor disematkan kepada Nur Fatihah dan Safiyah.
Dua santriwati asal Thailand itu kini bukan lagi sekadar tamu. Mereka telah menjadi bagian dari perjalanan akademik IAIH Pancor.
Wakil Rektor 1 IAIH Pancor mengungkapkan, kedatangan kedua mahasiswi tersebut merupakan buah dari silaturahmi Rektor IAIH Pancor, T.G.K.H. Muhammad Zainul Majdi, M.A., ke Pondok Pesantren Darul Barakah di Pattani, Thailand, pada Januari 2026.
“Kedatangan dua mahasiswa asing ini merupakan buah dari silaturahim yang pernah dilakukan oleh Bapak Rektor IAIH Pancor, Bapak Tuan Guru Bajang Dr. T.G.K.H. Muhammad Zainul Majdi, M.A., ke Pondok Pesantren Darul Barakah di Pattani, Thailand,” ujarnya.
Silaturahmi tersebut kini berbuah langkah nyata. Hubungan yang terjalin antara Pancor dan Pattani berkembang menjadi kerja sama pendidikan, mempertemukan dua lingkungan pendidikan Islam yang dipisahkan oleh batas geografis, tetapi dipertautkan oleh tradisi keilmuan.
Kehadiran Nur Fatihah dan Safiyah juga menjadi bagian dari ikhtiar IAIH Pancor memperluas jejaring pendidikan ke dunia internasional sekaligus mewujudkan visi kampus sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional.
Ada ikatan sejarah dan spiritual yang membuat perjalanan kedua santriwati tersebut terasa semakin istimewa.
Nama Maulana Syeikh T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ternyata cukup dikenal di lingkungan keluarga besar Pondok Pesantren Darul Barakah.
Pendiri pesantren tersebut, Baboh Ismail, bahkan pernah datang berziarah ke makam Maulana Syeikh di Pancor.
Kini, setelah perjalanan waktu, hubungan itu kembali menemukan bentuknya. Dua generasi muda dari Pattani datang ke Pancor untuk belajar dan mendalami ilmu.
Ustazah Misbah, Lc., putri pendiri Pondok Pesantren Darul Barakah, turut mendampingi kedua santriwati tersebut bersama Ustaz Abdullah.
Ia menyampaikan salam dari pimpinan Pondok Pesantren Darul Barakah sekaligus menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat keluarga besar IAIH Pancor.
Namun, di balik keberangkatan dua santriwati itu tersimpan harapan yang jauh lebih besar.
“Beliau sangat berharap kedua santriwatinya yang dibawa ke IAIH Pancor ini dapat menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh di IAIH Pancor sehingga menjadi orang yang berilmu dan menjadi penyambung dari sanad ilmu Bapak Maulana Syeikh untuk disebarkan di Thailand,” ujarnya.
Kalimat itu seolah menjadi pesan yang menyertai perjalanan Nur Fatihah dan Safiyah: belajar di Pancor bukan hanya untuk memperoleh pendidikan, tetapi juga membawa pulang ilmu untuk diteruskan kepada generasi berikutnya di Thailand.
Pondok Pesantren Darul Barakah Pattani sendiri memiliki perhatian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Pesantren tersebut mengakomodasi santri dari keluarga kurang mampu dan anak yatim piatu, sekaligus melakukan pemberdayaan terhadap para mualaf di Thailand.
Karena itu, perjalanan dua santriwati tersebut ke Pancor juga menjadi bagian dari harapan agar ilmu yang diperoleh kelak memberikan manfaat yang lebih luas.
Ilmu yang dipelajari di Pancor diharapkan tidak berhenti di ruang-ruang kelas. Ia diharapkan pulang bersama mereka, tumbuh di tengah masyarakat, dan diteruskan kepada generasi muda di Thailand.
Wakil Rektor 3 IAIH Pancor, Dr. Ahmad Muzayyin, menyampaikan optimisme terhadap semakin terbukanya pintu internasional bagi kampus tersebut.
Ia berharap ke depan semakin banyak mahasiswa dari berbagai negara memilih IAIH Pancor sebagai tempat menimba ilmu.
Kehadiran mahasiswa asing, menurutnya, dapat memperluas pengenalan IAIH Pancor di tingkat internasional sekaligus memperkuat jejaring pendidikan Islam lintas negara.
Hari itu, dua almamater IAIH Pancor disematkan kepada dua perempuan muda dari Pattani.
Namun, yang ikut disematkan bukan sekadar kain dan lambang kampus.
Ada harapan yang jauh lebih panjang: agar ilmu dari Pancor menyeberangi batas negeri, sampai ke Pattani, dan terus hidup melalui generasi yang datang setelahnya.
Dari Pattani ke Pancor, perjalanan dua santriwati itu pun dimulai.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimaksih Sudah Berkunjung di Website Kami