NusraID - Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap seorang wisatawan asal Inggris di kawasan Kuta Mandalika, Lombok Tengah, mendapat perhatian dari akademisi Program Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi.
Akademisi Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Muhammad Ramli, M.Pd., CHE, menyesalkan sekaligus mengecam dugaan tindakan kekerasan seksual yang dilakukan seorang karyawan hostel terhadap wisatawan tersebut.
Sebelumnya, Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menahan seorang karyawan hostel berinisial BI alias S yang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap wisatawan asal Inggris berinisial MSG.
Polisi menerima laporan terkait perkara tersebut pada 15 September 2026 dan meningkatkan kasus ke tahap penyidikan pada 16 September 2026. Tersangka kemudian ditahan di Rutan Polda NTB sejak 17 September 2026.
Atas perkara tersebut, tersangka terancam pidana penjara paling lama 12 tahun dan denda maksimal Rp300 juta.
Menurut Muhammad Ramli, penanganan hukum terhadap tersangka merupakan langkah penting. Namun, persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada proses hukum semata.
Ia menilai kasus serupa harus menjadi peringatan bagi seluruh pelaku usaha pariwisata, pengelola akomodasi, serta tourism operator untuk memperkuat sistem keamanan dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan destinasi wisata.
“Kejadian ini bukan persoalan sepele. Ketika terjadi tindak kekerasan terhadap wisatawan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan wisatawan terhadap destinasi. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak awal, bukan hanya setelah terjadi persoalan,” ujar Ramli.
Ramli mengatakan pengelola hostel, hotel, homestay maupun akomodasi lainnya perlu menerapkan mekanisme screening dan rekrutmen karyawan yang lebih ketat.
Menurutnya, aspek yang perlu diperhatikan antara lain rekam perilaku, integritas, serta pemahaman calon pekerja terhadap etika pelayanan wisata.
Selain itu, pengelola destinasi dan pelaku usaha pariwisata dinilai perlu memberikan edukasi kepada pekerja mengenai perlindungan wisatawan, batasan interaksi dengan tamu, hingga prosedur pelaporan apabila terjadi tindakan yang berpotensi mengarah pada kekerasan maupun pelecehan seksual.
Ramli juga menekankan bahwa keamanan dan kenyamanan wisatawan merupakan tanggung jawab bersama.
Masyarakat lokal dan pekerja pariwisata, kata dia, perlu memahami adanya perbedaan latar belakang budaya dalam berinteraksi dengan wisatawan mancanegara. Namun, perbedaan budaya tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang melanggar batas atau merugikan wisatawan.
“Yang diperlukan adalah standar perilaku profesional, perlindungan wisatawan, serta pengawasan yang jelas di setiap lingkungan akomodasi dan aktivitas wisata,” katanya.
Ia menegaskan, wisatawan yang datang ke Lombok berhak memperoleh pengalaman yang aman, nyaman, dan berkesan selama berada di destinasi.
“Wisatawan datang ke Lombok untuk menikmati pengalaman yang aman, nyaman, dan berkesan. Karena itu, seluruh pihak harus memastikan bahwa mereka mendapatkan perlindungan selama berada di destinasi. Pengelola akomodasi harus memastikan setiap karyawan memahami kode etik pelayanan dan memiliki perilaku yang baik,” tegasnya.
Kasus tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi di kawasan Mandalika, salah satu kawasan pariwisata strategis di Indonesia.
Polda NTB menyatakan proses penyidikan masih terus dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah barang bukti dan mendalami rangkaian peristiwa untuk memastikan perkara ditangani secara profesional sesuai ketentuan hukum.
Muhammad Ramli berharap kasus tersebut dapat menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata di NTB untuk memperkuat sistem tourist safety and security.
Menurutnya, citra sebuah destinasi tidak hanya dibangun melalui keindahan alam dan atraksi wisata, tetapi juga melalui rasa aman, keramahan, profesionalisme, serta jaminan perlindungan bagi setiap wisatawan yang berkunjung.
“Keamanan wisatawan harus menjadi bagian penting dari pembangunan pariwisata. Destinasi yang aman akan memberikan rasa percaya kepada wisatawan dan pada akhirnya mendukung keberlanjutan industri pariwisata,” pungkasnya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimaksih Sudah Berkunjung di Website Kami