Oleh: Mastur Sonsaka
(Alumni yang masuk STAIN Keluar UIN)
Ada satu pertanyaan yang selalu muncul setiap kali undangan reuni datang: masih ingatkah mereka padaku?. Bukan karena kita sombong. Tapi karena kita tahu, waktu telah mengubah banyak hal. Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih di pinggirnya. Wajah yang dulu tirus karena begadang mengerjakan makalah, kini lebih berisi karena beban hidup.
Nama-nama yang dulu kita hafal di luar kepala, kini kadang harus diingat-ingat lagi: dulu dia duduk di mana ya? Dulu dia anak fakultas apa ya?, dan justru di situlah reuni menjadi penting. Reuni bukan soal pamer keberhasilan. Reuni adalah tempat kita boleh jujur bahwa kita sudah lelah, sudah pernah gagal, sudah pernah hampir menyerah, tapi masih tetap di sini.
Menjalin Silaturahmi: Menemukan Diri Kita yang Lama
Angkatan 1999 adalah angkatan yang unik. Kami masuk saat kampus ini masih bernama STAIN Malang. Gedungnya belum semegah sekarang. Fasilitasnya terbatas. Tapi persahabatan kami tidak terbatas.
Kami adalah generasi yang masih mencatat kuliah dengan tangan, masih antre fotokopi, masih patungan beli buku, masih saling pinjam catatan kalau ketinggalan kelas.
Kami belum hidup di zaman grup WhatsApp. Kalau rindu, ya harus datang. Kalau mau tahu kabar, ya harus bertanya langsung. Maka ketika kita bertemu lagi di Kampus III, di udara dingin Batu pada 1 November itu, yang kita jalin bukan sekadar silaturahmi formal. Yang kita jalin adalah potongan masa lalu kita yang tercecer.
Kita akan tertawa karena mengingat dosen yang galak tapi baik hati. Kita akan diam sejenak karena mengingat teman yang sudah lebih dulu dipanggil Allah. Kita akan saling menepuk bahu dan berkata, “Alhamdulillah, masih ketemu.”
Silaturahmi, dalam makna yang paling sederhana, adalah cara kita berkata: aku belum melupakanmu.
Merawat Dedikasi: Api yang Jangan Sampai Padam
Kalau silaturahmi adalah soal hati, maka dedikasi adalah soal ketahanan. Waktu mahasiswa, semua orang bisa bicara tentang pengabdian. Kita semua pernah berapi-api ingin mengubah dunia. Kita pernah berdiskusi sampai larut malam tentang umat, tentang pendidikan, tentang keadilan.
Lalu kehidupan datang. Ada yang ditempatkan di daerah terpencil dan harus bertahan dengan gaji yang pas-pasan. Ada yang merintis usaha dari nol dan berkali-kali bangkrut. Ada yang mengurus keluarga sambil tetap mengajar. Ada yang diam-diam merasa, apakah yang dulu aku cita-citakan itu masih ada?
Reuni mengingatkan kita: dedikasi itu tidak harus selalu besar dan terlihat.
Dedikasi bisa berarti alumni yang menjadi guru di pelosok kampung yang tetap datang pagi-pagi ke sekolah meski tidak ada yang memuji. Dedikasi bisa berarti seorang alumni yang tetap jujur dalam bisnisnya meski bisa saja curang. Dedikasi bisa berarti seorang ibu yang mendidik anaknya dengan sabar, karena ia tahu, mendidik satu anak sama dengan mendidik satu generasi.
Merawat dedikasi bukan berarti kita tidak pernah lelah. Merawat dedikasi berarti kita lelah, tapi tidak berhenti.
Dan ketika kita melihat teman lama kita masih bertahan di jalannya masing-masing, kita jadi malu untuk menyerah. Kita jadi ingat lagi, kenapa dulu kita memilih jalan ini.
Membangun Negeri: Bukan dari Panggung, Tapi dari Jejak Kecil
Tema terakhirnya terdengar besar: membangun negeri.
Padahal, negeri ini tidak selalu dibangun oleh orang-orang yang tampil di televisi. Negeri ini dibangun oleh alumni-alumni yang tidak terkenal. Oleh guru yang membuat satu anak di desa bisa membaca. Oleh dosen yang membimbing satu mahasiswa sampai lulus.
Oleh pengusaha kecil yang membuka lapangan kerja untuk dua atau tiga orang tetangganya. Oleh siapa saja yang memilih untuk tidak merusak, di saat merusak itu lebih mudah.
Di reuni akbar ini, kita akan melihat bahwa kita tidak sendiri. Bahwa dari satu kampus kecil di Malang, telah lahir ribuan orang yang sedang membangun negeri dengan caranya masing-masing, di tempatnya masing-masing.
Dan kalau silaturahmi kita tersambung lagi, bayangkan apa yang bisa terjadi. Alumni yang yersebar di seluruh pelosok Nusantara bisa saling membantu. Yang sudah mapan bisa menggandeng yang baru memulai. Yang punya pengalaman bisa menuntun yang masih bingung.
Negeri tidak dibangun dalam satu hari reuni. Tapi reuni bisa menjadi titik awal, tempat kita saling berjanji: kita tidak akan berjuang sendirian lagi.
Pulang Itu Bukan Kembali ke Masa Lalu
Banyak orang mengira pulang ke almamater berarti kembali ke masa lalu. Padahal tidak. Pulang adalah cara kita memastikan bahwa masa lalu itu masih hidup di dalam diri kita, dan masih bisa kita bawa ke masa depan.
Maka pada 1 November nanti, ketika kita saling bersalaman, saling berpelukan, saling bertanya kabar, ingatlah: kita tidak hanya sedang temu kangen. Kita sedang menjalin silaturahmi agar tidak tercerai, merawat dedikasi agar tidak padam, dan membangun negeri agar tidak berhenti.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang dari kita bukanlah jabatan kita, bukan pula harta kita. Yang akan dikenang adalah: pernah ada alumni 1999 yang pulang, dan pulangnya membuat orang lain ingin pulang juga.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimaksih Sudah Berkunjung di Website Kami