NusraID - Sejumlah petani jagung di berbagai wilayah mengungkapkan keluhan serius terkait keterbatasan daya tampung gudang Bulog yang dinilai tidak berpihak kepada mereka. Harapan untuk menjual hasil panen jagung secara langsung ke Bulog kini semakin sulit, seiring dominasi pengusaha besar yang menguasai sebagian besar ruang penyimpanan.
Berdasarkan kondisi di lapangan, sekitar 70 persen kapasitas gudang Bulog saat ini diisi oleh pengusaha besar, sementara petani hanya mendapat porsi sekitar 30 persen . Ketimpangan ini memicu keresahan, karena petani merasa semakin tersisih dalam rantai distribusi hasil pertanian yang seharusnya melindungi mereka.
“Harusnya kami yang diutamakan, karena kami yang menanam dan memanen. Tapi kenyataannya, kami justru kesulitan masuk,” ucap Sarvin Aziza salah satu petani dengan nada kecewa.
Keterbatasan akses ini membuat petani terpaksa menjual hasil panen kepada tengkulak atau pihak ketiga dengan harga yang lebih rendah. Situasi ini tidak hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga memperlemah posisi tawar mereka di pasar.
Di sisi lain, keberadaan pengusaha besar yang mendominasi pengisian gudang dinilai menciptakan ketidakseimbangan. Sistem yang seharusnya menjadi penyangga harga dan perlindungan bagi petani justru dianggap menguntungkan kelompok tertentu.
Para petani jagung berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyerapan hasil panen oleh Bulog. Mereka menuntut kebijakan yang lebih adil, transparan, dan berpihak kepada petani kecil, agar tujuan awal menjaga stabilitas pangan sekaligus kesejahteraan petani dapat benar-benar terwujud.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kepercayaan petani terhadap sistem distribusi pangan nasional akan semakin terkikis menyisakan rasa lelah di ladang, dan ketidakpastian di masa depan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimaksih Sudah Berkunjung di Website Kami